Pengunjung

Thursday, 12 April 2012

Layang Layang

Layang Layang

Sinar Matahari Dhuha terpancar cerah keluar dari antara awan awan yang membuat suasana langit semakin dramatis, burung walet yang lalu lalang di atas permukaan lapangan tanpa jelas harus mencari apa. Angin yang bergerak bak alunan kipas angin yang di pencet nomor dua. Dan kulihat sang ayah yang masih duduk membaca koran dengan di dampingi kopi susu buatan ibunda tercinta. Tapi tetap aku tak bisa menyembunyikan rasa kegalauan yang ada dalam hati dan fikiranku. Tampak murung, lesu, malas, dan menatap dunia ini bagai lautan kesengsaraan yang tiada akhir. Ku tak bisa menatap masa depan yang indah walau umur ini masih muda. Aku tampak gelap walau ada pepatah Hilang Satu Tumbuh Seribu, ku tak bisa bahagia dengan selimut kegalaun yang melingkari tubuhku. Hidupku hampa, sia sia, karena kau tak ada. Aku hanya bisa menatap langit yang dulunya cerah menjadi gelap, matahari seakan akan tidak mau lagi memancarkan sinarnya. Semakin ku pandang semakin gelisah hati yang telah kau tinggalkan. Aku memasuki sebuah kamar yang telah ku tata rapi SEBELUMNYA tapi sekarang foto si dia yang berhamburan karena ku marah pada dirinya. Sungguh naif memang jika kita berbuat berlebihan hingga seperti itu. Aku tutup kepala dengan bantal lalu berteriak, tapi tetap tak bisa ku menghilangkan rasa sakit yang ada dalam diriku. Aku pergi ke kamar mandi ku celupkan kepala ke dalam bak mandi dan berteriak. Sedikit lega kurasakan karena kepala ini terbasahi oleh air yang diturunkan dengan rahmat-Nya. Sekali lagi ku celupkan kepala ini kedalamnya hingga lima kali. Sungguh ironi kegiatan para galauers, yang sebetulnya hanya perselisihan internal yang ada dalam hati dan fikiran saja.

Ibu dan ayah yang sebelumnya tanang dan damai dengan dunia mereka masing masing kaget melihat kegalauan hati yang kurasakan, dan tingkah laku saya bak seorang seniman yang telah hilang kendali dari dirinya. Sang ibu dan sang ayah hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakuku yang seperti ini. Mereka sudah menebak masalah saya hanyalah masalah asmara yang tak jelas juntrungannya (tujuannya.red).

Pasti para pembaca merasakan bagaimana jika anda galau .... hahahaha ....” Cinta itu kadang tidak menyadarkan kita tentang hal lain yang lebih positif dari sekedar cinta. Tapi cinta juga bisa menjadi anugrah yang terindah jika kita mampu membuatnya sebagai pengontrol hati kita. Mungkin saat kita galau kita masih seperti anak bayi yang merengek rengek. Dan langkah awal yang tepat adalah TENANGKANLAH HATI DAN FIKIRAN kita terlebih dahulu dengan membasuh muka dan kepala, (hehehe ... kalau cara saya seperti ini ^_^). Oh ya ... kembali ke cerita.


Setelah semua kehancuran hati dan hidup ini ku lampiaskan dengan segala hal. Tak terasa hari yang cerah menjadi panas hingga waktu datangnya senja. Ayah yang tadi paginya hanya tersenyum sekarang beliau berkata kepada saya : “Ayuk jalan jalan ...”. ketika itu saya iya in tu pernyataan, karena memang aku lagi dirundung masalah. Dan sampailah kami di suatu tempat yang lapang cerah dan ceria. Dari arah sini ku bisa melihat berbagai layang-layang yang berterbangan bebas di langit nan biru. Indah sungguh indah suasana seperti ini, kuingin terbang bersamanya agar semua masalah ikut hilang dengan kencangnya angin di langit. Melihat wajah saya yang 50% sudah tersenyum ayah saya bertanya : “Taukah Kamu apa yang terbang di sana?”

Kalau ditanya seperti itu anak SD juga tau kalau yang terbang itu adalah Layang-Layang. Dengan mudah saya menjawab “Itukan layang layang ayah ...”

“Apakah kamu ingin terbang seperti layang-layang ?” sahut ayahku.

“hehehe ...” senyum kecil terlihat di wajahku.

“Wahai anakku!, ketahuilah sebebas bebasnya kita terbang pasti ada peraturannya, pasti ada batasannya, burung yang terbang juga tidak bisa naik dan terbang hingga ke atsmosfer, layang layang pun juga demikian, ia tak bisa bebas bergerak kemana pun karena terikat dengan seuntai benang yang di pegang oleh sang dalang.”

“Wahai anakku!, se gundah gundah, se gelisah gelisah hatimu, se kacau kacaunya pikiranmu. Itu semua ada batasannya dan kitalah yang bisa mengendalikan itu semua dengan keteguhan iman dan ketaatan kita kepada Sang Kholik. Sama dengan keadaan kamu saat ini, ketika kamu galau, yang bisa menenangkan dan mengontrol diri kamu adalah siapa? Jika bukan diri kamu sendiri wahai anakku !”

Dengan tertegun ku melihat ayahku bak pahlawan yang terbang dari langit. Membuat fikiran saya lebih terbuka. Bahwa kita hidup di dunia ini juga ada suatu PERATURAN. Dan jika keluar dari peraturan itu, kitalah yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah kita perbuat.

“Anakku ... !, Apakah kau melihat dua layang layang merah dan kuning yang ada di sebelah selatan sedang saling bertarung.” Sahutan ayahku disela ku merenungi pelajaran pertama yang ku dapatkan.

“Iya ayah, aku melihatnya ...”

“Seandainya diantara dua layang layang itu bertarung apa yang akan terjadi ?” tanya ayahku.

“Salah satunya akan putus dan jatuh ... jika dua layang layang itu saling bertarung?” sahutku.

“Itulah Kehidupan.”

“Maksudnya ayah ???”

“Kehidupan ini penuh dengan persaingan, saling menjatuhkan saling mencari kehormatan diri walau harus mengorbankan kawannya sendiri. Tak ada yang fear dalam hal bisnis, akademik, bahkan dalam hal percintaan. Mereka akan saling bersaing untuk mendapatkan tujuan mereka masing masing. Wahai Anakku !! Boleh kita bersaing tapi bersainglah dalam hal kebaikan. Karena itu lebih dicintai Tuhan.” Jawaban ayahku

Lalu Dengan Kepercayaan diri ayahku ia berkata “Anakku Lihatlah dalam hitungan ke-lima layang layang yang kuning akan hilang. Satu ... dua ... tiga ... empat daaan LIMA ...”

Sungguh kagum aku melihat dari kata kata ayahku. Layangan itu sungguh putus dan terombang ambing di atas kami. Dan para anak kecil pun lari untuk mengerjarnya.

“Wahai Anakku !, Manusia yang putus dari tujuannya, manusia yang sudah putus asa atas kehidupannya dia akan terombang ambing tanpa tujuan dan berharap ada seseorang yang mau memperhatikannya. Jangan mau kalah dengan keadaanmu dengan masalahmu. Tetaplah pegang tali tali ajaran kamu. Karena itu lebih baik bagimu” kata ayahku.

“Dan pesan terakhir dari kejadian ini untuk anakku. Jadilah manusia yang terhormat dan menghormati jika suatu saat ketika engkau jatuh, engkau jatuh sebagai orang yang terhormat dan dihormati. Seperti layang layang yang jatuh itu. Ketika ia jatuh masih banyak yang mau mengerjar dan mendapatkannya. Jika kamu putus dari seseorang yakinlah bahwa masih banyak yang mau mengerjar kamu wahai anakku. Tetap semangat Be Smart n Be Happy

Pesan Moral:

Segala macam masalah dan kegalauan bisa kita atasi dengan Ketaatan kepada-Nya

Dan kekuatan fikiran dan hati kita.

Bukan malah kita terombang ambing tanpa tujuan dan harapan.

Sultan Maestro

Be Smart n Be Happy

^_^


Thursday, 5 April 2012

Jenis" Pendekatan Pembelajaran

Berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam belajar mengajar adalah:
  • Pendekatan pengalaman, yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan.
  • Pendekatan pembiasaan, yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pendekatan emosional, memahami, dan menghayati ajaran agamanya dengan tujuan agar perasaan siswa bertambah kuat terhadap keagamaannya kepada Allah.
  • Pendekatan rasional, yaitu usaha memberikan peranan kepada rasio atauakal dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama sertamencoba menggali hikmah dan fungsi ajaran agama.
  • Pendekatan fungsional, yaitu penyajian materi ajaran agama islam dengan penekanan pada segi pemanfataan bagi siswa dalam kehidupan sehari-harisesuai tingkat perkembangan siswa itu sendiri.
  • Pendekatan keteladanan, yaitu menyuguhkan keteladanan, baik langsung melalui kondisi penciptaan yang baik dilingkungan sekolah, maupun tidak langsung melalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah ketauladanan.
Jadi dalam kegiatan pembelajaran dan dalam satu materi pembelajaran bisa saja seorang guru itu menggunakan satu atau beberapa pendekatan untuk mencapai tujuan yang di inginkan setelah siswa melalui proses pembelajaran.

Di bawah ini adalah link download untuk kita agar lebih dekat dengan agama kita.

silahkan di download ya ...

Password : ceria

Download hadist Tematik

Be Smart n Be Happy ^_^

Tuesday, 3 April 2012

Ballighu 'Anni Walau Ayah

Sebuah hadits yang sangat populer, tidak hanya terkenal di kalangan da'iyah tapi juga di masyarakat umum berbunyi: "Ballighu ‘anni walau ayah". Sampaikan dariku walau satu ayat. Hadits riwayat Bukhori ini menjadi salah satu dasar perintah untuk beramar ma'ruf nahi munkar. Dalam sebuah kata perintah yang pendek ini, sesungguhnya mengandung maksud yang sangat dalam dan menjadi tuntutan untuk du’at. Antara lain:

1. Sampaikanlah

Al Ma’afi An Nahrawani berkomentar tentang hadtis ini: “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.

Kata “sampaikan” ini membantah orang yang beranggapan “Gak perlu mengurusi orang lain. Urusi dulu diri kita.”

Agama ini intinya adalah nasehat. Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad Daari r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW Bersabda : Agama adalah nasehat, (para sahabat bertanya): Untuk siapa ? Beliau bersabda : Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya (HR Bukhori Muslim). Saling menasehati hanya akan berjalan dengan cara menyampaikan kebenaran.

2. Dariku

Jelas sekali yang diinginkan Rasulullah adalah kita menyebarkan ilmu yang shohih, yang punya landasan dan rujukan yang tepat. Seseorang penceramah membawakan sebuah perkataan "Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina", dan ia katakan bahwa kalimat itu adalah hadits Rasulullah saw. Tepatkah penceramah itu disebut mengamalkan “Ballighu ‘anni walau ayah” bila para ulama ahli hadits mengatakan bahwa kalimat yang disebut penceramah itu adalah hadits palsu?

Harap diperhatikan untuk du’at, muballigh, murobbi, dan sebagainya; bahwa ancaman untuk orang yang berdusta atas nama Rasulullah itu tidak main-main. Sebuah hadits dari Salamah bin Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : ”Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.(HR Bukhari)

Karena itu kehati-hatian adalah keharusan dalam berdakwah. Hendaklah seorang du’at terlebih dahulu memastikan sebuah perkataan itu benar-benar hadits Rasulullah (berdasar rujukan yang shohih) sebelum mengatakan bahwa perkataan itu hadits.

Kata “dariku” ini juga mengandung tuntutan agar du’at dalam menyampaikan risalah Islam kepada umatnya harus mengambil sumber dari para ulama salafush-sholih dan atau ulama masa kini yang lurus. Karena para ulama itu adalah orang yang mengkaji dan mengamalkan sunnah Rasulullah saw. Mengambil sumber dari para orientalis barat yang kafir, atau mengambil rujukan dari kalangan liberalis tentu akan menyebabkan apa yang kita sampaikan itu menyimpang jauh dari ajaran Rasulullah saw. Sebab orang kafir hanya ingin memadamkan cahaya agama Allah.

Tuntutan lain, agar para du’at tidak membuat sesuatu yang mengada-ada dalam agama (bid’ah). Berapa banyak kita temui anjuran untuk mengamalkan sesuatu padahal kita ketahui bahwa anjuran itu tidak bersumber dari Rasulullah saw. Zaman ini semakin marak dengan anjuran bid’ah. Anjuran sholat dua bahasa beberapa waktu lalu, jelas seruan yang batil. Penyampaian itu sama sekali bukan bersumber dari Rasulullah saw. Juga yang harus diperhatikan adalah misalnya menganjurkan untuk mengucapkan bacaan tertentu dalam hitungan sekian kali lalu diiming-imingi fadhilah-fadhilah tertentu, yang sesungguhnya aktifitas itu tidak pernah Rasulullah ajarkan.

Penggalan kata ini menuntut para du’at yang telah mendengar hadits “sampaikanlah…” agar terus meningkatkan kapasistas mereka dengan menghafal hadits-hadits yang shohih dan mengenali hadits-hadits palsu. Dan juga mereka dituntut mengenal mana ajaran yang besumber dari sunnah Rasulullah saw, dan mana yang diada-adakan (bid’ah) atau seruan yang terkandung liberalisme.

3. Walau

Penggalan kata ini mengandung makna bahwa seluruh upaya harus dikerahkan dalam mengamalkan perintah “sampaikan dariku..” Kata walau membuat kita tidak bisa mengutarakan alasan untuk menghindar dari perintah ini. Mungkin akan ada yang beralasan ilmunya tidak cukup banyak untuk memberi nasihat, tapi Rasulullah tidak menginginkan alasan ini. Ada kata “walau” yang memaksa kita menyampaikan nasehat dari sedikit apa yang kita tahu.

Ada keringanan bagi orang yang tidak bisa melaksanakan sholat fardhu dengan berdiri. Walau tidak bisa berdiri, kita harus melakukan sholat. Alternatifnya, kita melakukannya dengan duduk. Begitu juga dalam dakwah, tidak semua orang mampu mencapai kapasitas ulama, sedangkan agama itu adalah nasihat, maka ada keringanan untuk menyampaikan walau sedikit yang kita tahu. Yang penting, mekanisme nasehat dalam agama harus berjalan.

Kata walau ini juga bermakna agar kita tidak menunda-nunda untuk menyampaikan apa yang kita tahu dalam agama ini. Tidak perlu menghafal sepuluh hadits lain baru kita menyampaikan sebuah hadits yang baru kita dengar. Tidak perlu menunggu membaca sepuluh kitab lain bila kita telah menyelesaikan sebuah kitab. Pokoknya, begitu ada yang kita tahu, maka segera sampaikan.

Di masa kini dengan adanya jejaring sosial yang memudahkan setiap orang berinteraksi, menyampaikan apa yang kita tahu walau sedikit itu semakin mudah. Bila yang kita tahu cukup banyak, maka tulislah di sebuah blog. Bila yang kita tahu sedikit, maka status twitter atau facebook bisa menjadi sarana dalam saling menasehati karena Allah. Walau pun 140 karakter, sampaikanlah!

4. Satu Ayat

Sebuah pepatah yang sangat familiar kita dengar berbunyi: Orang yang tidak memiliki apa-apa tidak akan bisa memberi apa pun. Dengan kata lain, kita hanya bisa memberi apa yang kita punya. Hadits “Ballighu ‘anni…” menginginkan kita agar ada yang disampaikan walau pun satu ayat. Di sini seorang da’i dituntut untuk selalu meningkatkan kapasitas mereka. Seorang da’i tidak boleh kosong pemahaman keislamannya. Ia dituntut untuk selalu mendengar, bahkan “berburu” ajaran Rasulullah saw agar ada yang bisa disampaikan.

Begitulah renungan dari sepenggal hadits yang pendek, namun penuh tuntunan untuk du’at.
==============
Tambahan
==============

فالفقرة المسؤول عنها هي جزء من حديث صحيح أخرجه البخاري وغيره.
وأما بخصوص معناها فهو أن المسلم مطالب بتبليغ ما وصل إليه من القرآن والأحاديث النبوية إلى غيره ممن لم يبلغه.
قال المباركفوري في كتابه تحفة الاحوذي في شرحه للحديث المشار إليه نقلاً عن صاحب اللمعات ما نصه: بلغوا عني: أي ولو كانت آية قصيرة من القرآن، والقرآن مبلغ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، الجائي به من عند الله، ويفهم منه تبليغ الأحاديث بالطريق الأولى.
وقد ذكر بعض العلماء أن المراد بالآية في الحديث هو الكلام المفيد نحو: من صمت نجا، والدين النصيحة. وعلى هذا فيكون المعنى بلغوا عني أحاديث ولو كانت قليلة.
إلا أن الصحيح هو القول الأول حسبما رجحه المباركفوري.


Di terjemahin sendiri ya ... pokoknya intinya ... jika kita tau tentang sesuatu hal kebaikan yang bisa membuat kita lebih dekat kpd Allah maka sampaikanlah !!!

jika kurang lengkap klik di link - link di bawah ini ....


referensi :
http://www.islamedia.web.id/2011/12/ballighu-anni-walau-ayah.html
http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=21185
http://ejabat.google.com/ejabat/thread?tid=7a4fa16f3e655cde
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review