Pengunjung

Sunday, 14 December 2008

Aliran Psikologi dalam Pandangan Islam

Behaviorisme, Asosiasi, dan Gestalt adalah beberapa aliran yang terdapat pada Psikologi. Dengan pengertian, defnisi dan tokoh yang berbeda-beda. Lantas bagaimana Islam memandang Aliran-aliran tersebut ?.

Pertama kita akan mengkaji terlebih dahulu tentang pengertian aliran tersebut secara ringkas. Kemudian, kita akan membandingkan dengan prespektif Islam. Disini, kita akan mengkaji tentang aliran Behaviorisme yang mempunyai pengertian bahwa Behaviorisme atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan— dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan)[1].

Dan behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini bahwa untuk mengkaji perilaku individu harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak keras adanya aspek-aspek kesadaran atau mentalitas dalam individu. Pandangan ini sebetulnya sudah berlangsung lama sejak jaman Yunani Kuno, ketika psikologi masih dianggap bagian dari kajian filsafat. Namun kelahiran behaviorisme sebagai aliran psikologi formal diawali oleh J.B. Watson pada tahun 1913 yang menganggap psikologi sebagai bagian dari ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif, oleh sebab itu psikologi harus menggunakan metode empiris, seperti : observasi, conditioning, testing, dan verbal reports Teori utama dari Watson yaitu konsep stimulus dan respons (S-R) dalam psikologi[2]. Stimulus adalah segala sesuatu obyek yang bersumber dari lingkungan. Sedangkan respon adalah segala aktivitas sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi. Watson tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku dan perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting. Pemikiran Watson menjadi dasar bagi para penganut behaviorisme berikutnya.

Behaviorisme juga mempunyai keyakinan seperti “Psikologi seharusnya dapat mempelajari kejadian kejadian yang terjadi di sekeliling (rangsangan) dan perilaku yang dapat diamati (respon). Seperti yang dicontohkan oleh Ivan Petrovich Pavlov pada seekor anjing dan eksperimennya terkenal dengan “refleks terkondisi[3]. Thorndike juga melakukan eksperimen terhadap kucing. B.F Skinner juga melakukan hal yang sama yaitu eksperimen melalui tikus dan dilanjutkan dengan uji coba kepada burung merpati. Arti dari behaviorisme itu sendiri juga berpengaruh Terhadap perilaku, kemampuan, sifat, dan faktor pengalaman mempunyai pengaruh yang lebih penting dibandingkan dengan faktor keturunan. Dengan demikian, belajar merupakan topik utama untuk dipelajari. Mereka juga berpendapat bahwa intropeksi sebaiknya ditinggalkan saja dan digantikan dengan metode obyektif (misalnya eksperimen, observasi, dan tes berulang-ulang). Dari paparan yang telah disebutkan dapat disimpulkan bahwa aliran Behaviorisme cenderung memilih untuk lebih mengedepankan eksperimen dan tes uji coba dari pada pengindraan seperti yang dilakukan oleh aliran struktualisme”.

Setelah kita mengetahui yang dimaksud dari aliran psikologi. Lantas, Apa hubunganya dengan Pemikiran Islam itu sendiri ?. sedangkan aliran aliran tersebut muncul dari pemikiran barat (filsafat barat). Menurut M. Ramli ahli kristolog bahwa Agama Islam adalah agama yang sempurna lebih dari agama kriten (nashara). “Al-Yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum nikmati wa radhitu islami dina”. Sesungguhnya Agama Islam itu sendiri diharuskan untuk melihat sesuatu dari segala Aspek. Jadi tidak hanya dari satu aspek saja. Dengan kata lain bahwa mempelajari sebuah kejiwaan manusiapun juga harus menilai orang dari segala hal, dalam aliran behaviorisme bahwa terujinya suatu kejiwaan manusia dengan sebuah eksperimental, observasi, dan uji coba. Memang apa yang dilakukan olah tokoh-tokoh bahaviorisme itu semua adalah benar karena tanpa uji coba kita tidak bisa melihat dan menilai seseorang itu. Di dalam islam saja ada yang disebut dengan ujian, dalam surat At-Taubah ayat 16 menyatakan Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) .....”. di dalam ayat tersebut menyatakan bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan orang itu sebelum Dia (Allah) mengetahui siapa orang itu. Pada dasarnya kita di dunia ini hanya merupakan sebuah ujian (uji coba). Dalam surat Ash-Shaffat ayat 106 menerangkan Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dengan kata lain, bahwa di dalam Agama Islam sendiri juga menharuskan untuk menguji coba segala sesuatu. Dalam kaidah ushul ada yang menerangkan tentang “al-‘Adatul Muhakkamah”.

Pada kaidah ushul itu saya mengartikan bahwa sebuah adat atau kelakuan keseharian sesuatu akan menggambarkan dengan watak dan sifat dari sesuatu itu juga. Berdasarkan pengertian di atas bila kita ambil contoh, waktu jam 5 pagi sampai jam 9 pagi akan menghasilkan prestasi pada Mahasiswa yang berbeda tergantung pada kepribadian orang itu. Misalnya :

Mahasiswa A : bangun dan minum kopi, pergi kuliah

Mahasiswa B ; bangun sholat, mandi, kuliah

Mahasiswa C : bangun, mandi, sholat, sarapan, dengar berita, membersihkan rumah, olah raga, baca buku, pergi kuliah dan ke perpustakaan.

Pada contoh di atas dapat disimpulkan bahwa yang mempunyai kemungkinan besar untuk berhasil adalah mahasiswa C. Mengapa ?, karena dari kebiasaan yang dilakukan oleh mahasiswa A dan B masih banayak kekurangan yang lebih dari mahasiswa C.

Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa aliran bahaviorisme yang cenderung kepada suatu kebiasaan dan eksperimental tidak terlalu bertolak belakang dari apa yang diajarkan pada Islam, dan suatu kebiasaan pula perlu juga di lakukan dalam meninjau segala aspek kehidupan yang terjadi pada keseharian kita.



[1] Agus Sujanto (1986), Psikologi perkembangan, Akasara Baru: Jakarta

[2] Sumadi Suryobroto, Psikologi Perkembangan, Rake Pres: Yogyakarta

[3] Ahamad Sudrajat. Let’s Talk About Education,

1 comment:

Monggo Kawan - Kawan yuk Berkomentar ^_^

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review