Pengunjung

Thursday, 18 November 2010

Makalah Filsafat Ilmu Al-Farabi

FILSAFAT ISLAM DI DUNIA TIMUR

AL-FARABI

MAKALAH


Di Susun Oleh:

Sultan Muhammad ZA D01208197

M. Mahrus Ali D01208150

M. Yuli Nur Huda D01208175

Muh. Masykuri D01208074

Septian Dwi Cahyo D01208190

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2009
BAB I

PENDAHULUAN

A. Biografi

Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang sangat ulung di dunia Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Ia dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.

Al-Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara. Setelah mendapat pendidikan awal, Al-farabi belajar logika kepada orang Kristen Nestorian yang berbahasa Suryani, yaitu Yuhanna ibn Hailan. Pada masa kekhalifahan Al-Muta'did tahun 892-902M, Al-farabi dan Yuhanna ibn Hailan pergi ke Baghdad dan Al-farabi unggul dalam ilmu logika. Al-Farabi selanjutnya banyak memberi sumbangsihnya dalam penempaan filsafat baru dalam bahasa Arab. Pada kekahlifahan Al-Muktafi tahun 902-908M dan awal kekhalifahan Al-Muqtadir pada tahun 908-932M Al-farabi dan Ibn Hailan meninggalkan Baghdad menuju Harran. Dari Baghdad Al-Farabi pergi ke Konstantinopel dan tinggal di sana selama delapan tahun serta mempelajari seluruh silabus filsafat.

Al-Farabi dikenal sebagai "guru kedua" setelah Aristoteles. Dia adalah filosof islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam[1].


BAB II

FILSAFAT ISLAM DI DUNIA TIMUR

AL-FARABI

A. Filsafat Emanasi

Abu Nasir al-Farabi (870 – 950 M) yang juga dikenal sebagai "guru kedua" (muallim ats-tsani) setelah Aristoteles "guru pertama" (muallim al-awwal) mengintrodusir apa yang dikenal dengan teori emanasi sebagai basis kosmologi.

Artinya bahwa alam semesta ini tercipta sebagai hasil proses emanasi yang tersusun dalam hierarki-hierarki. Mulai dari Tuhan yang tertinggi, bahkan melampaui batas apa pun sampai melewati wujud immaterial murni di bawahnya, hingga wujud paling rendah dari bagian material alam semesta.

Menurut teori emanasi ini, wujud Tuhan sebagai suatu wujud intelegensi (akal) mutlak yang berpikir tentang dirinya, "sebelum" adanya wujud-wujud selain-Nya, secara otomatis menghasilkan (memancarkan). Dan akal pertama sebagai hasil pertama proses berpikirnya. Menurut hadits qudsi, Allah Swt, berfirman: Yang pertama kali aku ciptakan adalah Sang Akal (pertama[2]).

Pada gilirannya, Sang Akal sebagai akal untuk berpikir tentang Allah dan, sebagai hasilnya, terpancarlah Akal kedua. Proses ini berjalan terus hingga berturut-turut terciptalah Akal Ketiga, Akal Keempat, Akal Kelima, dan seterusnya hingga Akal Sepuluh. Akal Sepuluh ini adalah akal terakhir dan terendah dalam tingkatan wujud di alam imaterial. Inilah gambaran sederhana tentang terbentuknya intelegensi dari akal ke III hingga ke X:

Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus.

Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter.

Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars.

Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari.

Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus.

Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri.

Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan[3].

Pertanyaannya, mengapa proses emanasi berhenti pada akal kesepuluh? Hal ini terkait dengan perkembangan astronomi pada era filosof Muslim masa itu – yang diwarnai oleh pandangan Ptolemeus. Dalam astronomi Ptolemeus, planet-planet dipercayai berjumlah sepuluh.

Dalam proses emanasi ini, di samping terciptanya akal-akal tersebut, tercipta juga jiwa dan wadak planet-planet.

Untuk menjelaskan masalah ini, marilah kita kembali kepada berbagai tingkatan akal tersebut. Selain berpikir tentang Allah sebagai Sumber Penciptaannya, Akal Kedua juga berpikir tentang dirinya sendiri. Namun, dari proses ini terpancarlah (terciptalah) jiwa dan wadak planet tertinggi – yang pertama dalam tingkatan planet – yang disebut sebagai planet atau langit pertama. Selanjutnya, proses berpikir tentang diri sendiri ini dilakukan oleh Akal Ketiga hingga Akal Kesepuluh dengan hasil terciptanya, secara berturut-turut, jiwa dan wadak bintang-bintang tetap, Saturnus dan seterusnya, hingga terciptanya bulan sebagai planet kesembilan dan bumi sebagai planet kesepuluh.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa -berbeda dengan planet-planet lain- planet bumi tak lagi bersifat immaterial murni. Tetapi merupakan campuran antara yang immaterial dengan yang material. Dengan kata lain, semua wujud di bumi merupakan gabungan antara materi (matter) dan forma (form) – yang bersifat immaterial. Sebagai ilustrasi yang paling jelas adalah bahwa manusia yang merupakan gabungan antara badan atau wadak yang bersifat materi dengan akal atau ruh yang bersifat materi. Pada dasarnya, seluruh ciptaan – termasuk apa yang selama ini kita anggap benda mati – merupakan gabungan dari materi dan ruh seperti yang disinggung di atas. Di bumi ini tidak ada materi mutlak ataupun akal atau ruh mutlak. Untuk benda mati, forma itulah akal atau ruhnya.

Aspek materi ciptaan atau wujud di bumi terbentuk di bawah pengaruh planet bulan. Sementara itu, forma diberikan oleh Akal Sepuluh. Ini sebabnya Akal Kesepuluh disebut sebagai Pemberi Forma (Dator Formarum) yang acapkali diidentikan dengan Malaikat Jibril.

B. Filsafat Kenabian

Filsafat kenabian Al-Farabi erat keitannya antara Nabi dan filosof dalm kesanggupannya mengadakan komunikasi dengan akal fa’al(Jibril). Mofiv yang menyebabkan lahirnya filsafat Al-Farabi ini desebabkan adangya pengikkaran terhadap eksitensi kenabian oleh Ahmad ibn Ishaq Al-Ruwandi dan Abu Bakar Al-Razi[4]. Ibn Al-Rawandi dalam bukunya Az-Zamarudah menjelaskan pengingkaran kenabian pad umumnya dan Nabi Muhammad pd Khususnya, dia mengatakan bahwa Nabi tidak diperlukan manusia, karena tuhan telah memberikan akal pada manusia agar dapat membedakan baik dan buruk dan petunjuk akal semata sudah mencukupi. Al-Razi juga tidak kalah bahayanya, karena ia menulis dua buku, yaitu “mukhariq ul anbiya’ au hijal Al-mutanabbiin” dan “naqli adDyan au fi an Nubuwwah”.

Dalam suasana yang demikian, Al-Farabi merasa terpanggil unutk menawab tantangan tersebut, apalagi segenerasi dengan Ibn Al-Ruwandi dan Al-Razi. Karena kenabian adalah asas sentral agama, Al-Farabi adalah filosof muslim pertama yang mengemukakan filsafat kenabian secara lengkap. Menurut Al-Farabi, manusia dapat berhunungan degan akal fa’al(jibril) dengan melalui dua cara yakni: penalaran (pemikiran)dan imajinasi (ilham). Cara penalaranhanya dapat dilakukan oleh para filosof yang dapat menembus alam materi dan cahaya ketuhanan, sedangkan cara ilham hanya dapat dilakukan oleh Nabi[5].

Ilham kenabiana ada kalanya terjadi waktu tidur dan waktu bangun, dengan kata lain, dalam bentuk impian yang benar atas wahyu. Menurut Al-Farabi, bila kekuatan imajinasi seorang kuat ia dapat berhunungan dengan akal fa’al. apabila kekuatan imajinasinya telah mencapai taraf kesempurnaan, tidak ada halanyan baginya menerima visi dan kebenaran-kebenaran dalam bentuk wahyu melalui akal fa’al.

Sampai disini terkesan bahwa kenabian telah menjadi suatu hal yang dapat diusahakan, akan teta[I tidak demikian hal ini disebabkan nabi adalah orang pilihan Allah. Seorang Nabi dianugrahi akal yang mempunyai daya tangkap yang luar biasa sehingga dapat berkomunikasi dengan akal fa’al. akal ini mempunyai kekuatan suci (hads). Sementara seorang filosof dapat berhubungan dengan akal faal melalui usaha sendiri melalui pemikiran atau akal perolehan (mustapad). Oleh karena itu, setiap nabi adalah filosof dan tidak setiap filosof itu nabi. Akan tetapi, filosof tidak bisa menjadi nabi, karena nabi adalah tetap manusia pilihan Allah.

Al farabi menekankan bahwa kebenaran wahyu tidak bertentangan dengan pengetahuan fisafat, sebab antara keudanya sama-sama dari suber yang sama, yakni akal fa’al. demikian pula tentang mukjizat sebagai bukti kenabian, menurut al-farabi, dapat terjadi dan tidak bertentangan dengan hukum alam karena suber hukum alam dan mukjizat sama-sama berasal dari akal fa’al[6].

C. Filsafat Politk

Al farabi hidup pada daerah otonomi di bawah pemerintahan Sultan saif Al-Daulah. Al-Farabi peling banyak disibukkan dengan masalah-masalah sosial. Meskipun dia tidak pernah memangku jabatan resmi dalam pemerintahan, pemikiran filsafatnya tidak bersifat khayalan semata. Al-Farabi menuangkan pemikiran filsafatnya tentang politik dalam berbagai karangannya, dan dua karangannya yang funda mental adalah al-siyasah al madinah (politik negeri) dan Aro’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Beberapa Pemikiran Tentang Negeri Utama). Melalui buku itu cukuplah jika Al-farabi ditempatkan dalam klasifikasi orang-orang yang berfikir secara sistematis tentang teori-teori politik[7].

Menurut al-farabi manusia adaalah makhluk yang bersifat sosial yaitu mahluk yang hidupnya berkelompok dan bermasyarakat. Karena, kehidupannya selalu bergantung satusama lain sehinggal\ tidak meungkin untuk hidup individualistis. Kehidupan bermasyarakat ini dimaksudkan untuk kepentingan bersama dalam mencapai tujuan hidup, yakni kebahagiaan[8]. Kemudian, alfarabi membagi masyarakat menjadi dua macam yaitu:

1. Masyarakat Sempurna

Yaitu masyarakat dalam kelompok besar seperti masyarakat kota. Bisa juga masyarakat yang terdiri dari beberapa bangsa yang bersatu dan bekerja sama dalam hubungan internasional.

2. Masyarakat tidak Sempurna

Yaitu kelompok masyarakat yang hidup dalam jumlah kecil, sperti masyarakat dalam satu keluarga, atau dalam satu desa.

Dalam kitab Aro’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Beberapa Pemikiran Tentang Negeri Utama). Al-Farabi membagi negara atau pemerintahan menjadi lima[9]:

1. Negara Utama (al-Madinah al-Fadhilah)

2. Negara Jahil (al-Madinah al-Jahilah)

3. Negara Sesat (al-Madinah al-Dhalah)

4. Negara Fasik (al-Madinah al-Fasiqoh)

5. Negara Berubah (al-Madinah al-Mustabadilah)

Akan tetapi pembahasan hanya terfokus pada masalah yang pertama yaitu Negara Utama. Masyarakat negara utama adalah masyarakat sempurna yang bagian-bagian pemerintahannya sudah lengkap dan pusat dari segalanya adalah kepala negara yaitu subagai pengatur danpenggerak dalam setiap bagian dalam pemerintahan.

Oleh karena itu syarat yang diberikan al-Farabi untuk menjadi kepala negara isa dibilang cukup tinggi yaitu: bertubuh sehat, berani, kuat, cerdas, pecinta pengetahuan, serta keadilan dan memiliki akal mustafid yang dapat berkomunikasi dkengan aksi kesepuluh, pengatur bumi dan penyampai wahyu. Sehingga orang yang paling cocok untuk menjadi kepala negara yang sesuai syarat diatas adalah nabi atau rasul[10]. Sehingga, apabila syarat untuk menjadi kepala negara yang diajukan alFarabi tidak dimiliki oleh seseorang tetapi dimiliki oleh beberapa orang, maka mereka secara bersama harus bersatu dalam memimpin dan mengatur negara sebagai kepala negara.

Meskipun kepala negara adalah pusat dari pemerintahan tetapi diantara pelaksanaan pemerintahan antara negara dan warganya harus saling membantu dan bekerja samaserta rela berkorban untuk kepentingan bersama dan kepentingan negara. Dilihat dari sisi ini berarti al-Farabi menepiskan bentuk negara kapitalisme dan sosialisme komunis.

Sebenarnya dalam penetapan kriteria sifat kepala negara al-Farabi terpengaruh oleh pemikiran plato. Tetapi ada perbedaan yang mendasar antara pemikiran keduanya dari sisi kejasmanian saja, sedangkan al-Farabi dalam pemikirannyamenekankan kejasmanian dan spiritualm dan dia juga menambahkanbahwa kepala pemerintahan harus bisa berhubungan dengan akal kesepuluh. Sehingga, bisa disebut bahwa Al-Farabi adalah plato dalam mantel Nabi Muhammad.


BAB III

PENUTUP

D. Kesimpulan

Al-Farabi adalah salah satu filusuf Islam yang mendapat julukan sebagai guru kedua setelah Aristoteles. Filsafat-filsafatnya al-Farabi antara lain; filsafat Emanasi yang menjelaskan tentang pancaran dan wahyu, filsafat kenabian yang membantah karya ar-Razi tentang keingkaran Nabi, filsafat Politik yang menerangkan tentang pengeturan dan siapa yang pantas menjadi ketua dalam artian lain Presiden.

E. PENUTUP

Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua….Amiiin,


DAFTAR PUSTAKA



[1] www.wikipedia.org

[2] Ahmad Bahur Razi, Manusia yang mewahyu menurut al-Farabi

[3] H. Nasution

[4] Drs. H.A Mustofa, Filsafat Islam

[5] Ibrahim Madkur. Fi falsafat al-Islamiyyah wa manhaj wa tatbiquh

[6] Prof. Dr. H. Sirajuddin zar, M.A, filsafat Islam

[7] Dr. Ibrahim Madkour, Filsafat Islam; metode dan penerapannya.

[8] Prof. Dr. H. Sirajuddin zar, M.A, filsafat Islam

[9] Ibid, hal 83

[10] Ibid, hal 84

1 comment:

Monggo Kawan - Kawan yuk Berkomentar ^_^

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review